Tanam Padi Inovatif dari Domban Mororejo: Dari Satu Bibit Menjadi Rumpun 30 Batang

  • Sih Budi Daryanto
  • Dec 29, 2025
Features

Tanam Padi Inovatif dari Domban Mororejo: Dari Satu Bibit Menjadi Rumpun 30 Batang

Petani Dusun Domban, Mororejo, Tempel, Sleman, Tri Supatno menerapkan sistem tanam padi inovatif “Jajar Legowo 2:1” di lahan sawah yang disewanya. Pola tanam ini dilakukan dengan menata dua baris padi rapat yang diselingi satu jalur kosong, sehingga tanaman memperoleh ruang tumbuh yang lebih optimal.

Saat ditemui di sawah pada 28 Desember 2025, Tri Supatno menjelaskan bahwa sistem Jajar Legowo tidak hanya membuat tampilan sawah lebih rapi dan indah, tetapi juga memberikan banyak keuntungan teknis.

“Jalur kosong ini memaksimalkan masuknya cahaya matahari dan sirkulasi udara,” ujarnya. Ia menambahkan, “Pupuk dapat terserap lebih merata dan perawatan menjadi lebih mudah, bahkan dapat menjangkau hingga rumpun padi yang berada di bagian tengah.”

Tri Supatno yang merupakan anggota kelompok tani sekaligus penyuluh pertanian ini mempraktikkan langsung ilmu yang ia peroleh di lapangan. Pada lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, ia hanya menggunakan sekitar setengah kilogram benih padi. Dengan tingkat kesuburan lahan yang baik dan perawatan terkontrol, ia berharap hasil panen dapat mencapai 5 hingga 6 kuintal gabah.

Berbeda dengan kebiasaan sebagian petani, Tri Supatno tidak menyemai benih di sudut sawah. Ia memilih menyemai padi menggunakan “nampan bambu”, layaknya penyemaian bibit sayuran. Keunikan lainnya, setiap lubang tanam hanya diisi satu benih, bukan satu rumpun. Namun hasilnya justru mencengangkan, karena dengan sistem Jajar Legowo, satu batang bibit mampu berkembang menjadi sekitar 30 batang dalam satu rumpun.

Untuk menjaga keteraturan jarak tanam, ia menggunakan alat cetak sederhana berupa silinder kayu beroda yang ditarik di atas lumpur sawah. Alat ini menghasilkan jarak tanam sekitar 15 cm pada dua baris rapat, 25 cm antar baris depan dan belakang, serta jalur kosong selebar 40 cm.

Pengalaman Tri Supatno menunjukkan bahwa dengan teknologi sederhana, perhitungan jarak tanam yang tepat, dan pemahaman budidaya yang baik, petani dapat meningkatkan efisiensi benih sekaligus memaksimalkan hasil panen.

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)