Tetap Relevan di Tengah Arus Digital: Strategi Buletin UMKM Kita”

  • Sih Budi Daryanto
  • Dec 10, 2025
Sosial Masyarakat , Features

Tetap Relevan di Tengah Arus Digital: Strategi Buletin UMKM Kita”

Di tengah derasnya arus digitalisasi selama satu dekade terakhir, kehadiran media cetak kerap dipandang meredup. Namun peluncuran Buletin UMKM Kita versi cetak oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel Sleman di Pendopo Kapanewon pada 9 Desember 2025 membuktikan bahwa media cetak masih memiliki ruang bagi celah audiens yang spesifik. Lebih menarik lagi, buletin ini dibagikan secara cuma-cuma, sebuah langkah yang bukan sekadar melawan tren, tetapi merupakan strategi yang telah dihitung secara matang oleh para penggagasnya.

Sadhono Hadi, Pemimpin Redaksi buletin, menjelaskan bahwa pilihan menerbitkan buletin cetak adalah keputusan yang telah diperhitungkan dengan cermat. “Perlu disadari bahwa komunitas pewarta KIM ini sepenuhnya bersifat sosial, semua relawan. Komoditas yang kami kelola adalah informasi, bukan uang atau nilai komersial. Dalam konteks itulah, media cetak menjadi salah satu portofolio organisasi,” ujarnya.

Secara finansial, edisi perdana ini memang tidak menghasilkan keuntungan uang. Namun dari perspektif portofolio informasi, justru nilai tambahnya luar biasa. Sadhono menggambarkan setidaknya tiga manfaat strategis:

Pertama, dunia UMKM adalah sumber berita yang dinamis, luas, dan tak pernah kehabisan cerita. Dengan hadirnya buletin ini, KIM Senyum seakan berada dalam “satu atap” dengan sumber-sumber berita tersebut, tinggal bagaimana para relawan memanfaatkannya.

Kedua, buletin menjadi lahan subur bagi penulis muda di Tempel. Mereka dapat belajar menulis artikel, melakukan riset bisnis, membuat profil tokoh, hingga menyusun advertorial. KIM kini tak hanya bergantung pada platform pihak lain; kami memiliki media sendiri dengan jaminan pembaca yang nyata.

Ketiga, meski generasi milenial lebih senang mengakses informasi melalui media sosial digital, tidak semua stakeholders demikian. Masih banyak kalangan yang akrab dengan media cetak dan merasa lebih nyaman membacanya. Mengabaikan kelompok ini, menurut Sadhono, akan menjadi kekeliruan besar bagi organisasi yang mengemban tugas pelayanan informasi masyarakat.

“Dalam dunia nyata, tidak semua bentuk sukses diukur dengan uang,” pungkasnya.

(SH/KIM Senyum Tempel)