Uji Pidato di PPKK UGM, Mengukur Kapasitas Komunikasi Calon Perangkat Kalurahan
Di tengah dinamika pembangunan kalurahan yang menuntut perangkatnya semakin responsif dan komunikatif, seleksi calon perangkat kalurahan Merdikorejo di Gedung Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (25/11/2025) memunculkan satu penekanan penting terkait kemampuan berpidato.
11 calon Kamituwa dan 8 calon Dukuh Kembang diuji bukan hanya pada aspek administratif dan teknis, tetapi juga pada kecakapan menyampaikan gagasan di depan publik. Dalam proses seleksi yang sarat persaingan ini, kemampuan berbicara secara terstruktur menjadi indikator wajib bagi siapa pun yang ingin mengemban amanah pelayanan masyarakat.
Sejak pagi, para peserta tampak mempersiapkan materi singkat yang harus disampaikan dalam sesi uji pidato. Ruang seleksi di Gedung PPKK UGM dipenuhi suasana serius namun penuh harapan. Tim penguji menilai bukan hanya isi pidato, tetapi juga ketenangan, artikulasi, serta kemampuan kandidat dalam mengelola pesan. Semua itu dilakukan untuk menggambarkan situasi nyata yang akan dihadapi perangkat kalurahan ketika berbicara di hadapan warga.
Ketua Panitia Seleksi yang juga menjabat sebagai Carik Merdikorejo, Yuni Adinurdiyanto mengatakan bahwa kemampuan berpidato menjadi penting karena perangkat kalurahan tidak hanya bekerja di balik meja. Mereka harus mampu menjelaskan program, menyosialisasikan kebijakan, hingga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Tanpa kemampuan komunikasi lisan yang baik, pesan yang disampaikan rawan tidak dipahami, atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak pada pelayanan publik,” jelasnya.
Menurut Yuni, para kandidat yang tampil percaya diri dinilai lebih mampu membangun hubungan emosional dengan audiens. Pada sesi seleksi tersebut, beberapa kandidat menunjukkan kapasitas retorika yang matang, memadukan intonasi, bahasa tubuh, dan ketepatan pilihan kata. Situasi ini memperlihatkan bahwa berpidato bukan sekadar berbicara, tetapi seni menyampaikan pesan dengan efektif dan meyakinkan.
Di sisi lain, tim penguji juga menyoroti pentingnya kemampuan berpikir cepat ketika peserta diberi topik mendadak. Ketika calon perangkat mampu menyusun gagasan secara spontan namun terstruktur, hal itu menunjukkan kematangan berpikir serta kesiapan menghadapi situasi lapangan yang dinamis. Kemampuan ini sangat relevan, terutama saat perangkat kalurahan harus merespons isu-isu mendadak yang muncul di tengah masyarakat.
Sementara itu, Agus Prasetyo selaku Lurah Merdikorejo menuturkan bahwa kemampuan berpidato juga mencerminkan kompetensi kepemimpinan. Menurutnya, perangkat kalurahan merupakan figur yang harus dapat mengarahkan, mengajak, dan memotivasi warga. Tanpa kecakapan berbicara, sulit bagi perangkat untuk memberikan pengaruh positif dalam proses pembangunan sosial maupun administratif. Karena itu, seleksi ini menjadi sarana penting untuk memotret potensi kepemimpinan para kandidat.
Uji pidato seperti ini memberikan pelajaran berharga bagi para peserta. Banyak dari mereka mengakui bahwa persiapan untuk tampil di depan panel penguji membantu meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan menyusun argumen. Dan bagi sebagian peserta, sesi ini bahkan menjadi pengalaman pertama berbicara di forum formal.
Selain aspek teknis, pidato juga menguji karakter peserta apakah mereka memiliki ketulusan, visi yang jelas, serta orientasi pelayanan untuk menunjukkan kemampuan komunikasi yang adaptif. Harapannya, generasi perangkat Kalurahan Merdikorejo ke depan adalah para komunikator yang tangguh, cerdas, dan humanis.
(Penulis: Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)