Warga Didorong Jadi Garda Depan Hadapi Krisis Iklim Lewat Program Kampung Iklim

  • Sih Budi Daryanto
  • May 12, 2026
Sosial Masyarakat

Warga Didorong Jadi Garda Depan Hadapi Krisis Iklim Lewat Program Kampung Iklim

SLEMAN — Kesadaran menghadapi perubahan iklim kini tidak lagi hanya menjadi urusan pemerintah pusat atau lembaga internasional. Dari tingkat kampung dan komunitas warga, berbagai gerakan adaptasi dan mitigasi mulai diperkuat melalui Program Kampung Iklim (Proklim), sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan verifikasi dan evaluasi Proklim yang dilakukan tim Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman di salah satu wilayah masyarakat di Kapanewon Tempel, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Padukuhan Jetis Kalurahan Sumberrejo pada Selasa (12/5/2026).

Di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem, persoalan sampah, hingga krisis air bersih di berbagai daerah, pendekatan berbasis masyarakat dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun ketahanan lingkungan dari tingkat paling bawah.

Sri Restuti Nur Hidayah, ST, M.Eng Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman menegaskan bahwa Program Kampung Iklim bukan sekadar kegiatan lomba kebersihan, tetapi gerakan membangun kesadaran kolektif masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

“Harapannya masyarakat bisa memahami aksi-aksi yang dilakukan itu berangkat dari persoalan nyata di lingkungannya. Jadi ada hubungan antara masalah yang dihadapi dengan solusi yang dibangun bersama warga,” ujar Sri Restuti.

Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan seperti meningkatnya penyakit berbasis lingkungan, persoalan sampah, hingga ancaman kekeringan perlu direspons melalui aksi konkret yang melibatkan masyarakat secara langsung. Karena itu, Proklim mendorong lahirnya kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ia mencontohkan, wilayah yang mengalami ancaman kekeringan dapat memperkuat konservasi air melalui pembangunan sumur panen hujan, biopori, penghijauan, hingga penanaman pohon. Langkah sederhana tersebut dinilai memiliki dampak besar terhadap ketahanan air dan kualitas lingkungan dalam jangka panjang.

“Penanaman pohon itu bukan hanya membuat lingkungan lebih hijau, tetapi juga bagian dari konservasi air dan menjaga kualitas udara. Semua itu masuk dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” katanya.

Selain konservasi air, pengelolaan sampah menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Proklim. Sri menegaskan bahwa praktik pembakaran sampah terbuka masih menjadi persoalan serius karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim global.

“Kalau emisi terus meningkat, dampaknya bisa memicu cuaca ekstrem, hujan badai, longsor, banjir bandang hingga kekeringan berkepanjangan. Karena itu, pengelolaan sampah yang benar menjadi bagian penting dari upaya mitigasi,” jelasnya.

Fenomena perubahan iklim sendiri kini semakin dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Musim yang sulit diprediksi, suhu udara yang meningkat, hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi menjadi tantangan yang harus diantisipasi sejak tingkat komunitas.

Dalam konteks tersebut, Program Kampung Iklim dinilai menjadi pendekatan yang relevan karena menempatkan masyarakat sebagai subjek utama perubahan, bukan sekadar objek program pemerintah. Keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan dipandang mampu menciptakan gerakan yang lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

Selain memperbaiki kualitas lingkungan, gerakan Proklim juga dinilai memperkuat budaya gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Berbagai kegiatan seperti kerja bakti lingkungan, pengelolaan sampah mandiri, penghijauan kawasan, hingga pemanfaatan pekarangan kini mulai tumbuh sebagai kebiasaan baru di sejumlah wilayah.

Sri berharap aksi-aksi lingkungan yang dilakukan masyarakat tidak berhenti pada proses penilaian semata, tetapi berkembang menjadi budaya kolektif yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Intinya, selain menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan asri, semua ini juga untuk edukasi anak cucu kita. Harapannya mereka tetap bisa hidup di lingkungan yang lestari dan berkualitas,” tuturnya.

Melalui gerakan berbasis masyarakat seperti Proklim, upaya menghadapi perubahan iklim kini tidak lagi terasa jauh dan abstrak. Dari lingkungan terkecil, warga mulai membangun ketahanan bersama demi masa depan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.(SBD KIM SENYUM TEMPEL)