BPBD Dorong Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat untuk Kurangi Risiko Bencana

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 25, 2026
Sosial Masyarakat

SLEMAN – Peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam mengurangi dampak bencana. Di negara dengan tingkat kerawanan tinggi seperti Indonesia, kesiapsiagaan warga dinilai sama pentingnya dengan ketersediaan sarana dan prasarana penanggulangan bencana.

Pesan tersebut disampaikan Nurcahyo Abdullah dari BPBD Kabupaten Sleman saat memberikan materi dalam Bimbingan Teknis Penanganan Bencana dan Kegawatdaruratan bagi Relawan yang berlangsung pada 24–25 Juni 2026 di Ayem Ayem Coffee Pangukan Sleman yang dihadiri oleh perwakilan dari jajaran linmas, relawan kebencanaan, dan kader kesehatan dari kalurahan Lumbungrejo,Mororejo dan Pondokrejo

Dalam paparannya, Nurcahyo menjelaskan berbagai potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi masyarakat serta perkembangan kondisi kebencanaan terkini. Ia menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai.

"Bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itu, masyarakat perlu memahami risiko yang ada di lingkungannya serta mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi," ujarnya.

Menurutnya, keberadaan relawan yang terlatih menjadi aset penting dalam membangun ketangguhan komunitas. Relawan tidak hanya berperan saat tanggap darurat, tetapi juga memiliki fungsi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana.

Nurcahyo menekankan bahwa upaya pengurangan risiko bencana harus dimulai dari tingkat komunitas melalui peningkatan kesadaran, latihan berkala, dan penyusunan rencana kesiapsiagaan yang melibatkan warga secara langsung.

"Semakin tinggi tingkat kesiapsiagaan masyarakat, semakin kecil risiko yang ditimbulkan ketika bencana terjadi. Inilah mengapa edukasi dan pelatihan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan dinamika lingkungan telah meningkatkan frekuensi berbagai bencana hidrometeorologi di banyak wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih adaptif dan memiliki kemampuan respons yang cepat.

Melalui kegiatan pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai ancaman bencana, tetapi juga dibekali keterampilan praktis untuk mendukung upaya penyelamatan dan penanganan korban. Diharapkan, para relawan dapat menjadi agen perubahan yang menularkan budaya siaga bencana di lingkungan masing-masing.

Penguatan kapasitas masyarakat seperti ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh, di mana setiap warga memiliki peran dalam mengurangi risiko serta mempercepat pemulihan ketika bencana terjadi.(SBD)