SLEMAN – Kemampuan memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menyelamatkan korban pada situasi darurat. Karena itu, peningkatan kapasitas relawan di bidang kegawatdaruratan dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak, terutama di daerah yang memiliki risiko bencana dan kecelakaan cukup tinggi.
Hal tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis Penanganan Bencana dan Kegawatdaruratan bagi Relawan yang digelar pada 24–25 Juni 2026 di Ayem Ayem Coffee Pangukan Sleman yang dihadiri oleh perwakilan dari jajaran linmas, relawan kebencanaan, dan kader kesehatan dari kalurahan Lumbungrejo,Mororejo dan Pondokrejo
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pembekalan dari Maryana, narasumber dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, mengenai berbagai keterampilan dasar yang diperlukan saat menghadapi kondisi darurat.
Materi yang diberikan meliputi penanganan kegawatdaruratan di lingkungan rumah tangga, identifikasi korban bencana dan triase, bantuan hidup dasar (BHD), teknik balut bidai, stabilisasi korban, hingga prosedur evakuasi dan transportasi.
Menurut Maryana, relawan memiliki peran strategis karena sering kali menjadi pihak pertama yang berada di lokasi kejadian sebelum tenaga medis maupun tim penyelamat datang.
"Pada kondisi darurat, tindakan awal yang dilakukan masyarakat atau relawan dapat sangat memengaruhi keselamatan korban. Karena itu, keterampilan dasar pertolongan pertama perlu dipahami dan dilatih secara berkelanjutan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi korban dan triase menjadi langkah penting untuk menentukan prioritas penanganan, terutama ketika jumlah korban lebih banyak dibandingkan sumber daya yang tersedia. Dengan kemampuan tersebut, relawan dapat membantu memastikan korban dengan kondisi paling kritis memperoleh pertolongan lebih dahulu.
Selain itu, peserta juga dibekali praktik bantuan hidup dasar yang menjadi kompetensi mendasar dalam penyelamatan korban henti napas maupun henti jantung. Materi ini dipadukan dengan teknik balut bidai dan stabilisasi guna mencegah cedera bertambah parah selama proses evakuasi.
Maryana menilai pelatihan berbasis praktik sangat penting agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bertindak secara tepat ketika menghadapi situasi nyata.
"Kesiapan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama akan memperbesar peluang keselamatan korban dan membantu mempercepat proses penanganan lanjutan oleh tenaga kesehatan," katanya.
Di tengah meningkatnya berbagai potensi bencana dan keadaan darurat, penguatan kapasitas relawan menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi berbagai risiko. Melalui pelatihan semacam ini, relawan diharapkan mampu menjadi ujung tombak pertolongan awal sekaligus penggerak budaya keselamatan di lingkungan masing-masing.(SBD)