BPS Sleman Canangkan Desa Cantik 2026 Dorong Penguatan Data dari Akar Rumput, Wakil Bupati Kukuhkan Agen Statistik Desa

  • Sih Budi Daryanto
  • Apr 14, 2026
Sosial Masyarakat

BPS Sleman Canangkan Desa Cantik 2026 Dorong Penguatan Data dari Akar Rumput, Wakil Bupati Kukuhkan Agen Statistik Desa

Sleman — Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman resmi menggelar sosialisasi sekaligus pencanangan Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola data hingga tingkat desa. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (14/4/2026) di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.

Program ini diinisiasi oleh Badan Pusat Statistik sebagai strategi nasional untuk meningkatkan literasi statistik, kualitas data desa, serta mendorong perencanaan pembangunan berbasis data yang akurat dan berkelanjutan.

Dalam sambutan tuan rumah, Lurah Margorejo Abdul Azis Muh Ridwan SH menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kalurahan Margorejo sebagai lokasi pencanangan. Ia menekankan pentingnya peran desa dalam mendukung kebijakan berbasis data.

“Kami menyambut baik program Desa Cantik ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan data yang valid dan terkelola dengan baik, desa dapat merancang program yang lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi warga,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya siap bersinergi dengan BPS dan seluruh pihak terkait untuk menjadikan Margorejo sebagai contoh desa berbasis data. “Ini bukan hanya tentang statistik, tetapi tentang bagaimana data bisa menjadi dasar pembangunan yang nyata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, perwakilan BPS provinsi, hingga perangkat kalurahan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman. Kehadiran lintas sektor tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem data yang terintegrasi.

Dalam kesempatan itu, Kepala BPS Kabupaten Sleman, Widhi Pranowo, memaparkan capaian dan strategi implementasi Desa Cantik 2026 sebagai bagian dari upaya membangun budaya sadar data hingga ke level desa. “Program Desa Cantik bukan sekadar kegiatan statistik, tetapi gerakan bersama untuk menjadikan data sebagai dasar utama dalam perencanaan pembangunan desa,” ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan piagam pencanangan Program Desa Cantik 2026. Penandatanganan ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah daerah dan desa dalam membangun sistem data yang akurat, terpadu, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Kepala Tim Statistik BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sentot Bangun Widoyono menegaskan pentingnya peran desa sebagai fondasi utama dalam sistem statistik nasional. “Desa adalah sumber data paling dasar. Ketika data di desa kuat, maka kualitas statistik nasional juga akan semakin kokoh. Program Desa Cantik menjadi langkah nyata membangun ekosistem data dari bawah,” ujarnya.

Momentum penting lainnya adalah pengukuhan agen statistik dari tiga kalurahan di Kapanewon Tempel, yakni Kalurahan Margorejo, Kalurahan Pondokrejo, dan Kalurahan Sumberrejo. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa SE, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang statistik desa.

Dalam sambutannya, Danang menekankan pentingnya akurasi data dalam menentukan arah pembangunan daerah. “Pembangunan yang tepat harus dimulai dari data yang tepat. Kehadiran agen statistik desa ini menjadi ujung tombak dalam memastikan setiap kebijakan benar-benar berbasis kondisi riil masyarakat,” tegasnya.

Agen statistik desa diharapkan mampu mengawal proses pengumpulan dan pemutakhiran data, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah dalam penyediaan informasi yang akurat.

Langkah ini juga sejalan dengan agenda nasional Satu Data Indonesia, yang menekankan pentingnya integrasi data dari tingkat paling bawah. “Kalau desa sudah kuat dalam data, maka kebijakan di tingkat kabupaten hingga nasional akan semakin tepat arah,” ungkap Wakil Bupati menutup sambutannya.

Program Desa Cantik 2026 di Kabupaten Sleman menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan desa dapat memperkuat fondasi pembangunan berbasis data.

Dengan adanya laporan pelaksanaan, penandatanganan komitmen, serta pengukuhan agen statistik, program ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi langkah konkret menuju tata kelola data yang lebih profesional dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, kehadiran desa yang “cinta statistik” menjadi harapan baru—bahwa pembangunan yang tepat dimulai dari data yang tepat. (SBD Kim SENYUM TEMPEL)