Bu Seno Warga Tempel Sleman, Lestarikan Getuk Kimpul, Jajanan Tradisional yang Kian Langka

  • Sih Budi Daryanto
  • Jul 07, 2026
Kuliner , Features

Di tengah semakin sulitnya menemukan jajanan tradisional berbahan umbi-umbian lokal, Bu Seno, warga Padukuhan Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, masih setia membuat getuk kimpul. Kuliner sederhana ini menjadi salah satu upaya menjaga keberadaan pangan lokal yang dahulu sangat akrab di tengah masyarakat.

Kimpul (Xanthosoma violaceum) merupakan tanaman umbi-umbian yang sekilas sangat mirip dengan talas (Colocasia esculenta). Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Talas umumnya membentuk satu umbi besar sehingga saat dipanen tanaman harus dicabut dan mati. Sebaliknya, umbi kimpul tumbuh bergerombol di pangkal batang. Umbinya dapat dipanen satu per satu dengan cara digali dan dipetik, kemudian tanaman ditimbun kembali sehingga tetap hidup dan dapat terus menghasilkan umbi baru.

"Rasa umbi kimpul berbeda dengan talas. Kimpul tidak berlendir dan tidak menimbulkan rasa gatal di tenggorokan," ujar Bu Seno saat ditemui di warungnya pada 6 Juli 2026. Menurutnya, tekstur kimpul juga lebih padat sehingga sangat cocok diolah menjadi getuk.

Nenek dua cucu tersebut tidak setiap hari membuat getuk kimpul. Ia hanya memproduksinya ketika mendapatkan umbi kimpul yang masih segar dan dalam jumlah cukup dari pasar. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Umbi dikupas, kemudian dikukus hingga empuk, lalu ditumbuk di dalam lumpang bersama garam, gula, dan parutan kelapa hingga tercampur rata.

Meski mempertahankan cita rasa tradisional, Bu Seno mengikuti perkembangan zaman dalam penyajiannya. Jika dahulu getuk harus dipotong menggunakan pisau sebelum disajikan, kini adonan dicetak menggunakan cetakan sehingga bentuknya lebih rapi, menarik, dan lebih higienis.

Selain dijual di warung kecil miliknya, getuk kimpul Bu Seno juga dipasarkan melalui WhatsApp oleh putrinya. Pembelinya tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari padukuhan lain yang sengaja datang untuk mendapatkan jajanan tradisional yang kini mulai langka tersebut. Bahkan sebelum siang hari, seluruh getuk yang dibuat biasanya sudah habis terjual.

Kimpul sendiri merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Tanaman ini mudah dibudidayakan, relatif tahan terhadap berbagai kondisi lahan, dan menjadi alternatif pangan selain beras maupun singkong. Upaya warga seperti Bu Seno tidak hanya mempertahankan cita rasa kuliner tradisional, tetapi juga ikut melestarikan keanekaragaman pangan lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)