Sleman – Upaya melestarikan bahasa dan budaya Jawa terus dilakukan melalui penguatan kapasitas masyarakat. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Pelatihan Panatacara yang digelar Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Kapanewon Tempel pada Jumat (3/7/2026) di Padukuhan Sedogan, Tempel, Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan kemampuan menjadi pembawa acara (panatacara) berbahasa Jawa yang santun, beretika, dan sesuai pakem.
Pelatihan dihadiri oleh perangkat Padukuhan Sedogan, para Ketua RT dan RW, kader PKK, guru PAUD dan TK, perwakilan Karang Taruna, serta berbagai unsur masyarakat. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pegiat seni, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Rumah Ketua LPMKal Sedogan Sutardi yang juga merupakan pengurus DPC PPY Tempel menjadi tempat berlangsungnya pelatihan yang dikemas interaktif dengan diskusi, praktik, dan penyampaian materi secara aplikatif.
Materi disampaikan oleh Saryanto, yang membidangi Diklat DPC PPY Tempel, dengan tema "Tuladha Ringkes Paraga Tangguh Wicara", yang menitikberatkan pada kemampuan berbicara menggunakan unggah-ungguh basa Jawa secara tepat sesuai situasi dan lawan bicara.
"Seorang panatacara bukan sekadar mampu berbicara di depan umum, tetapi harus mampu menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Jawa yang santun, runtut, dan berkarakter. Kemampuan bertutur yang baik akan menjaga martabat budaya sekaligus memperkuat komunikasi di tengah masyarakat," ujar Saryanto saat menyampaikan materi.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah semakin berkurangnya generasi yang terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama dalam kegiatan resmi. Karena itu, pelatihan seperti ini menjadi investasi budaya yang penting agar tradisi tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Ketua LPMKal Padukuhan Sedogan Sutardi menyampaikan bahwa pelatihan panatacara tidak hanya bertujuan mencetak pembawa acara yang andal, tetapi juga membangun rasa percaya diri masyarakat dalam tampil di berbagai kegiatan sosial, keagamaan, maupun adat.
"Kami berharap peserta mampu menjadi penggerak pelestarian budaya di lingkungannya masing-masing. Ketika masyarakat semakin percaya diri menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar, maka nilai-nilai budaya akan tetap lestari di tengah perkembangan zaman," ungkapnya.
Pelatihan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat. Peserta aktif mengikuti praktik membawakan acara menggunakan bahasa Jawa serta memperoleh masukan langsung dari pemateri mengenai teknik vokal, sikap, pilihan diksi, hingga etika berbicara di depan publik.
Di tengah arus modernisasi, kegiatan semacam ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendidikan masyarakat yang berkelanjutan. Tidak hanya menjaga warisan leluhur, pelatihan panatacara juga membentuk sumber daya manusia yang komunikatif, berkarakter, dan mampu menjadi duta budaya di lingkungan masing-masing.
Melalui kolaborasi antara organisasi pelestari budaya, pemerintah tingkat lokal, dan masyarakat, pelatihan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus menghidupkan bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.(SBD)