Desa Didorong Jadi Pusat Data Pembangunan, Program Desa Cantik 2026 Perkuat Peran Statistik dari Akar Rumput
Sleman — Upaya membangun Indonesia dari desa terus diperkuat melalui pendekatan berbasis data. Pemerintah, melalui Badan Pusat Statistik (BPS), kembali menggulirkan Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) 2026 sebagai strategi meningkatkan kualitas pembangunan berbasis data hingga ke level paling bawah.
Program ini tidak sekadar mendorong desa sebagai objek pembangunan, tetapi menempatkannya sebagai subjek utama yang mampu mengelola, memanfaatkan, dan menghasilkan data statistik secara mandiri. Langkah ini dinilai krusial dalam mendukung agenda besar pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Data yang berkualitas akan melahirkan perencanaan yang berkualitas, dan pada akhirnya menghasilkan pembangunan yang tepat sasaran,” ujar Yanis Habibi, Tim Statistik BPS provinsi DIY dalam pemaparan kegiatan sosialisasi dalam rangkaian acara pencanangan program desa cinta statistik tahun 2026 di Margorejo Tempel Sleman pada Selasa (14/4/2026).
Selama ini, desa masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan data. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, tingginya beban administratif perangkat desa, serta belum optimalnya pemanfaatan data menjadi hambatan utama.
Padahal, kebutuhan data di tingkat desa semakin meningkat seiring dengan banyaknya program pemerintah yang berbasis data, termasuk integrasi dalam kerangka Satu Data Indonesia. Tanpa dukungan data yang akurat dan terstandar, pembangunan berisiko tidak tepat sasaran.
“Pembangunan tanpa data yang kuat akan menyulitkan proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program,” jelas Yanis.
Melalui Program Desa Cantik 2026, BPS menargetkan peningkatan literasi statistik di kalangan perangkat desa dan masyarakat. Tidak hanya itu, program ini juga mendorong terbentuknya agen-agen statistik di desa yang akan menjadi motor penggerak pengelolaan data.
Secara umum, program ini bertujuan:
Meningkatkan kesadaran dan peran aktif desa dalam kegiatan statistik
Menstandarkan pengelolaan data agar lebih berkualitas dan dapat dibandingkan
Mengoptimalkan pemanfaatan data untuk pembangunan
Mencetak agen statistik di tingkat desa
Selain itu, Desa Cantik 2026 juga terintegrasi dengan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, sehingga desa diharapkan mampu memahami variabel sosial ekonomi sekaligus berperan aktif dalam proses pendataan.
Program ini dirancang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada pendampingan intensif mulai dari pengumpulan data, pengolahan, analisis, hingga pemanfaatannya dalam kebijakan desa.
Hasil yang diharapkan pun konkret, mulai dari tersusunnya profil statistik desa, publikasi data, hingga pengembangan sistem informasi berbasis website. Desa yang memenuhi kriteria juga berpeluang meraih predikat Desa Cantik terbaik di tingkat nasional.
“Ketika desa mampu mengelola data sendiri, maka keputusan pembangunan akan lebih presisi, transparan, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu daerah yang menunjukkan capaian positif dalam program ini. Sejumlah desa di DIY bahkan berhasil meraih penghargaan nasional dalam penyelenggaraan statistik desa.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas data di tingkat desa bukan sekadar konsep, melainkan langkah nyata yang mampu mendorong pembangunan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Keberhasilan Desa Cantik sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari BPS sebagai pembina, pemerintah desa, hingga komunitas statistik di tingkat lokal.
Kepala desa dan perangkatnya memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan program, termasuk dalam pembentukan agen statistik dan pemanfaatan data untuk kebijakan.
Dengan target perluasan hingga seluruh kabupaten/kota di Indonesia, Program Desa Cantik 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan berbasis data, dimulai dari desa.
“Ini adalah langkah bersama untuk memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari data yang akurat, demi Indonesia yang lebih sejahtera,” pungkas narasumber. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)