Masjid Perlu Bertransformasi Menjadi Ruang Tumbuh Generasi Muda

  • Sih Budi Daryanto
  • Jul 13, 2026
Sosial Masyarakat , Keagamaan

SLEMAN - Peran masjid di Indonesia terus mengalami perkembangan, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, penguatan karakter, dan pembinaan generasi muda. Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus digitalisasi, pengelolaan masjid dituntut semakin adaptif agar mampu menarik partisipasi anak-anak dan remaja dalam kegiatan keagamaan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Tempat Ibadah Ramah Anak di Aula Lantai Dua Kalurahan Lumbungrejo Tempel Sleman pada Senin-Selasa (13-14/7/2026) dihadapan perwakilan takmir masjid dari Kalurahan Lumbungrejo dan Margorejo.

Penyuluh Agama Islam Ahli Madya sekaligus perwakilan Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Sri Hermayanti, S.Ag., M.Pd., dalam materi nya menilai bahwa pemetaan kapasitas dan karakteristik pengurus atau takmir masjid menjadi langkah penting untuk membangun strategi pembinaan jamaah yang efektif.

"Takmir perlu memahami siapa jamaah yang ingin dirangkul, terutama anak-anak dan remaja. Dengan pemetaan yang baik, program masjid dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat mereka," ujar Sri Hermayanti.

Menurutnya, generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, masjid perlu menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberi ruang belajar, berinteraksi, dan berkreasi.

Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan adalah penyelenggaraan bimbingan belajar di lingkungan masjid. Selain membantu meningkatkan kemampuan akademik, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mendekatkan anak-anak dengan lingkungan keagamaan sejak dini.

Di era media sosial, pengelolaan informasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan partisipasi jamaah. Publikasi kegiatan melalui platform digital dinilai mampu menjangkau generasi muda yang selama ini lebih banyak berinteraksi di ruang virtual.

"Masjid harus hadir di tempat anak muda berada, salah satunya melalui media sosial. Informasi kegiatan yang dikemas menarik akan membuat mereka merasa memiliki kedekatan dengan masjid," katanya.

Sri Hermayanti juga mendorong pemanfaatan seni dan budaya sebagai media dakwah yang ramah bagi generasi muda. Berbagai kegiatan seperti pelatihan seni islami, pertunjukan budaya bernilai edukatif, maupun kreativitas berbasis tradisi lokal dapat menjadi jembatan antara nilai keagamaan dan budaya masyarakat.

Selain itu, pemberian penghargaan kepada anak-anak dan remaja yang aktif dalam kegiatan masjid dinilai mampu meningkatkan motivasi serta rasa memiliki terhadap lingkungan ibadah mereka.

"Ketika anak-anak merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang, mereka tidak hanya datang ke masjid, tetapi juga tumbuh bersama masjid," tutur Sri Hermayanti.

Transformasi masjid menjadi pusat pembinaan generasi muda tersebut diharapkan mampu memperkuat fungsi masjid sebagai pilar pembangunan karakter bangsa sekaligus menciptakan ruang yang inklusif, ramah anak, dan relevan dengan tantangan zaman.(SBD)