Muhammad Tri Fauzi, Terapis Cedera Olahraga, pemuda yang Mengabdi di Kampung Halamannya di Tempel Sleman

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 20, 2026
Features

Di tengah minimnya anak muda yang menekuni profesi terapis pijat atau terapi cedera secara serius, Muhammad Tri Fauzi (30) justru berhasil menjadikan bidang tersebut sebagai profesi yang digelutinya hingga kini. Pria asal Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman ini menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2017. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan dengan konsentrasi terapi olahraga. Setelah lulus, bersama beberapa rekannya ia turut mendirikan Health Sport Center (HSC), sebuah layanan kesehatan dan terapi olahraga yang melayani mahasiswa maupun masyarakat umum.

Selain itu, Fauzi juga pernah terlibat dalam tim kesehatan pada berbagai kegiatan olahraga dan kepemudaan. Pengalaman tersebut semakin mengasah keterampilannya dalam menangani berbagai cedera yang sering dialami atlet maupun masyarakat umum. Pendidikan tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Olahraga di Universitas Negeri Yogyakarta dan berhasil menyelesaikan program S-2. Bekal ilmu dan pengalaman tersebut mendorongnya membuka praktik Terapi Cedera Olahraga di kediamannya sendiri pada tahun 2024.

Ternyata kebutuhan masyarakat terhadap layanan terapi cedera masih sangat tinggi. Dalam waktu relatif singkat, puluhan pasien datang setiap bulan untuk mendapatkan penanganan. Keluhan yang paling sering ditangani antara lain cedera pergelangan kaki akibat terkilir, nyeri pinggang, cedera pergelangan tangan, nyeri bahu, hingga keluhan otot dan sendi akibat aktivitas kerja sehari-hari.

“Kebanyakan pasien datang karena terkilir pada pergelangan kaki, nyeri pinggang, cedera pergelangan tangan, atau bahu,” jelas Fauzi saat ditemui pada Sabtu, 20 Juni 2026. Saat itu ia sedang menangani seorang pasien yang mengalami nyeri pinggang setelah mengangkat barang dengan posisi tubuh yang kurang tepat. Untuk membantu proses pemulihan, ia memanfaatkan terapi panas menggunakan lampu inframerah.

“Sinar inframerah ini membantu menghangatkan jaringan tubuh sehingga otot yang tegang menjadi lebih rileks dan terapi dapat berjalan lebih efektif,” terangnya sambil mengatur timer alat terapi inframerah. Selain terapi cedera olahraga dan pijat terapi, Fauzi juga melayani terapi bekam yang banyak diminati masyarakat sebagai pengobatan komplementer.

Dari buku tamu Fauzi, yang dimilikinya, tercatat pasien tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, tetapi juga dari Jawa Barat, Kalimantan Barat, bahkan pernah ada warga negara asing yang datang untuk mendapatkan perawatan.

Bagi Fauzi, yang telah memperoleh sertifikat profesi itu, kepuasan terbesar bukanlah banyaknya pasien yang datang, melainkan ketika ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui keterampilan yang dimilikinya, ia berharap dapat membantu lebih banyak orang untuk kembali sehat, aktif, dan produktif. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)