Musim Kemarau Tiba, Hamparan Sawah Di Tempel Berubah Menjadi Kebun Jagung

  • Sih Budi Daryanto
  • Jul 17, 2026
Features

Memasuki awal musim kemarau, hamparan sawah di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, tampak berubah wajah. Lahan yang sebelumnya ditanami padi kini didominasi tanaman jagung sehingga menciptakan pemandangan hijau yang menyegarkan mata.

Salah seorang petani, Bambang Priyono, yang ditemui pada Jumat, 17 Juli 2026 di lahan miliknya di Padukuhan Ngebong, Kalurahan Margorejo, tampak membersihkan daun-daun bagian bawah tanaman jagung.

"Daun bagian bawah kami buang agar penyaluran nutrisi dari akar lebih banyak menuju tongkol sehingga hasil panen lebih baik. Daunnya juga tidak terbuang karena dimanfaatkan sebagai pakan kambing," jelasnya.

Menurut Priyono, tanaman jagung yang ditanamnya telah berumur sekitar 40 hari. Jika pertumbuhannya normal, jagung akan dipanen pada umur sekitar 105–110 hari atau sekitar tiga setengah bulan. Sementara itu, untuk varietas jagung manis, masa panennya lebih singkat, yaitu sekitar 65–70 hari setelah tanam.

Namun, di balik hamparan hijau tersebut, para petani menyimpan kekhawatiran. Meskipun jagung dikenal lebih tahan terhadap kekeringan dibanding padi, tanaman ini tetap membutuhkan air yang cukup pada fase-fase penting, terutama saat pemupukan dan pembentukan tongkol.

"Kalau kekurangan air pada masa itu, hasil panennya bisa menurun," ujar Priyono.

Ia sebenarnya memiliki sumur sedalam sekitar tujuh meter di tengah lahannya. Namun, untuk mengairi tanaman diperlukan pompa berbahan bakar, sehingga biaya operasional menjadi cukup tinggi. Menurutnya, biaya penyedotan air sering kali tidak sebanding dengan harga jual jagung saat panen.

"Ya, kami hanya bisa berharap cuaca mendukung. Kalau hujan tidak turun dan tidak mampu menyiram, hasilnya tentu tidak maksimal. Kalau pun gagal panen, setidaknya tanaman jagung masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Priyono telah mengajukan permohonan pembangunan sumur bor lengkap dengan pompa listrik di dua titik kepada Dinas Pertanian Kabupaten Sleman. Hingga kini, ia masih menunggu realisasi bantuan tersebut.

Selain jagung, sebagian kecil petani di Tempel memilih menanam kacang tanah sebagai tanaman musim kemarau. Namun, jagung tetap menjadi pilihan utama karena lebih mudah dibudidayakan, memiliki permintaan pasar yang stabil, dan seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan, baik sebagai pangan maupun pakan ternak.

Jagung merupakan salah satu komoditas yang cukup sesuai ditanam pada musim kemarau karena membutuhkan air lebih sedikit dibanding padi. Meski demikian, keberhasilan panen tetap sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air, terutama pada fase pertumbuhan awal dan pembentukan tongkol. Karena itu, pembangunan sarana irigasi dan sumur pertanian menjadi kebutuhan penting bagi petani agar produksi tetap terjaga di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)