Musim Kemarau Tiba: Intip Goreng Khas Jogja Kembali Hadir

  • Sih Budi Daryanto
  • Jul 21, 2026
Features

Datangnya musim kemarau membawa berkah bagi para perajin intip goreng. Setelah sempat menghentikan produksi akibat tingginya curah hujan, kini camilan tradisional khas Yogyakarta dan Solo itu kembali dibuat. Salah satunya oleh Maryati, warga Padukuhan Ngebong, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Intip merupakan kerak nasi yang menempel di dasar ketel saat menanak nasi. Dahulu kerak nasi ini sering dianggap sebagai sisa yang kurang bernilai. Namun, melalui kreativitas masyarakat, intip diolah menjadi camilan renyah yang memiliki cita rasa khas dan digemari berbagai kalangan.

Menurut Maryati, proses pembuatan intip goreng tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada beberapa tahapan penting yang menentukan kualitas hasil akhirnya. Peralatan memasak, teknik menanak nasi, waktu mengambil intip dari ketel, proses penjemuran, hingga cara menggoreng semuanya harus dilakukan dengan tepat.

"Nasi harus dimasak menggunakan ketel aluminium yang tebal, bukan panci biasa," jelas Maryati saat ditemui Selasa, 21 Juli 2026 di dapurnya yang sederhana. Ia menambahkan, ketika nasi hampir matang, api harus dikecilkan agar kerak yang terbentuk memiliki ketebalan yang pas dan tidak terlalu gosong.

Setelah nasi diangkat, intip tidak boleh langsung dicukil. Jika terlalu cepat, kerak masih lunak dan mudah hancur. Sebaliknya, jika terlalu lama dibiarkan, intip akan melekat kuat pada dasar ketel sehingga sulit dilepaskan.

Musim kemarau menjadi waktu terbaik untuk memproduksi intip karena proses penjemuran berlangsung lebih cepat dan merata. Intip harus benar-benar kering sebelum disimpan atau digoreng. Intip yang masih lembab tidak akan mengembang sempurna saat digoreng, bahkan berisiko berjamur sehingga tidak layak dipasarkan.

Tahap terakhir adalah penggorengan. "Minyak harus benar-benar panas sebelum intip dimasukkan. Dengan begitu intip akan langsung mengembang, renyah, dan tidak menyerap banyak minyak," ujar Maryati.

Saat ini Maryati memproduksi beberapa varian rasa, mulai dari original, manis, hingga asin. Camilan tradisional ini tetap memiliki banyak penggemar karena teksturnya yang renyah, rasanya yang sederhana namun khas, serta menjadi bagian dari kekayaan kuliner warisan masyarakat Jawa.

Selain menjadi makanan ringan, produksi intip goreng juga menjadi sumber penghasilan bagi keluarga perajin, terutama pada musim kemarau ketika proses penjemuran dapat dilakukan secara optimal. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)