SLEMAN — Penguatan peran kader kesehatan menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat sekaligus melakukan deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan.
Semangat tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Pembinaan Kader Posbindu Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, yang digelar di ruang pertemuan Kalurahan Merdikorejo pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan menghadirkan narasumber dr. Reynaldi Suprayoga, dokter dari Puskesmas Tempel I, yang memberikan pembekalan mengenai peran strategis kader dalam upaya promotif dan preventif di tingkat masyarakat.
Dalam pemaparannya, dr. Reynaldi menegaskan bahwa Posbindu tidak hanya menjadi tempat pemeriksaan kesehatan berkala, tetapi juga wadah pemberdayaan masyarakat untuk membangun budaya hidup sehat sejak dini.
"Kader Posbindu memiliki peran yang sangat penting sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Melalui deteksi dini faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah, obesitas, hingga pola hidup yang kurang sehat, berbagai penyakit tidak menular dapat dicegah sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat membuat penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke semakin banyak ditemukan. Karena itu, keberadaan kader yang aktif memberikan edukasi serta mengajak warga melakukan pemeriksaan rutin menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis masyarakat.
Selain meningkatkan keterampilan teknis kader dalam melakukan skrining kesehatan sederhana, pembinaan juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi agar pesan-pesan kesehatan dapat diterima dengan baik oleh warga dari berbagai kelompok usia.
Menurut dr. Reynaldi, keberhasilan program Posbindu tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada kolaborasi antara kader, pemerintah kalurahan, dan partisipasi aktif masyarakat.
"Upaya pencegahan akan jauh lebih efektif apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin. Kader menjadi jembatan yang menghubungkan layanan kesehatan dengan masyarakat sehingga budaya hidup sehat dapat tumbuh dari lingkungan terdekat," katanya.
Melalui pembinaan ini, para kader diharapkan semakin percaya diri menjalankan tugas sebagai mitra tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat, melakukan pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular, serta mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih sehat.
Penguatan kapasitas kader Posbindu menjadi langkah nyata dalam membangun sistem kesehatan yang lebih preventif, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat, mandiri, dan tangguh menghadapi tantangan penyakit di masa depan.(SBD)