Sleman – Peningkatan keterampilan perempuan dalam mengolah pangan lokal terus menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus membuka peluang usaha rumahan. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Pelatihan Keterampilan Pokja II PKK yang digelar pada Selasa (30/6/2026) di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.
Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Pokja II PKK Kalurahan Margorejo, Enjang Dwi Retnoningsih, menghadirkan narasumber Ari Setyawati yang memberikan pelatihan praktik pembuatan Risoles Rogut Susu, salah satu olahan pangan yang memiliki cita rasa khas sekaligus berpotensi menjadi produk usaha mikro.
Dalam sambutannya, Enjang Dwi Retnoningsih menegaskan bahwa pelatihan keterampilan merupakan bagian dari upaya PKK untuk meningkatkan kapasitas perempuan agar semakin produktif dan mandiri secara ekonomi.
"Kami berharap setiap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi peluang usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga. PKK ingin mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha rumahan yang kreatif dan berdaya saing," ujarnya.
Sementara itu, Ari Setyawati menjelaskan bahwa proses pembuatan Risoles Rogut Susu memerlukan ketelitian dalam memilih bahan, mengolah isian, hingga teknik penggorengan agar menghasilkan produk yang lezat, higienis, dan memiliki nilai jual.
"Produk makanan seperti risoles memiliki peluang pasar yang cukup baik. Dengan menjaga kualitas rasa, kebersihan, serta tampilan produk, masyarakat dapat menjadikannya sebagai usaha rumahan yang menjanjikan," jelas Ari di hadapan para peserta.
Pelatihan berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga mempraktikkan langsung setiap tahapan pembuatan, mulai dari penyusunan adonan kulit, pengolahan isian rogut berbahan susu, proses pembungkusan, hingga teknik menggoreng yang menghasilkan tekstur renyah dan cita rasa optimal.
Selain memperkaya keterampilan memasak, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman antaranggota PKK mengenai inovasi produk pangan, pengemasan yang menarik, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan konsumen.
Melalui pelatihan seperti ini, PKK menunjukkan perannya tidak hanya sebagai organisasi pemberdayaan keluarga, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat. Peningkatan keterampilan mengolah pangan diharapkan mampu melahirkan produk-produk unggulan berbasis rumah tangga yang dapat bersaing di pasar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga Indonesia.(SBD)