Sleman – Upaya mengurangi risiko bencana tidak selalu dilakukan saat keadaan darurat terjadi. Langkah pencegahan justru menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.
Semangat tersebut ditunjukkan Relawan Tim Reaksi Cepat (TRC) Lumbungrejo yang menggelar aksi mitigasi bencana melalui pemangkasan pohon-pohon yang dinilai membahayakan permukiman warga pada Minggu (28/6/2026).
Kegiatan dilaksanakan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat mengenai sejumlah pohon yang berpotensi tumbang dan mengancam keselamatan warga maupun pengguna jalan.
Aksi mitigasi dilakukan di dua wilayah, yakni Padukuhan Tempel dan Padukuhan Lodoyong.
Di lokasi pertama, relawan melakukan pemangkasan dua batang pohon kelapa yang berada di sekitar kawasan food court serta satu batang pohon jambe.
Sementara di Padukuhan Lodoyong, tim menangani satu batang pohon kelapa dan satu batang pohon ketepeng yang kondisinya dinilai berisiko apabila diterpa angin kencang atau cuaca ekstrem.
Koordinator TRC Lumbungrejo Rahmat Jatmiko mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk pelayanan cepat kepada masyarakat sekaligus bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana.
"Mitigasi adalah investasi keselamatan. Kami ingin potensi bahaya bisa diatasi sebelum berubah menjadi bencana yang menimbulkan kerugian. Laporan warga menjadi dasar kami bergerak cepat agar lingkungan tetap aman dan nyaman," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada kesiapsiagaan relawan, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam mengenali dan melaporkan potensi ancaman di lingkungan masing-masing.
Kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi antara masyarakat dan relawan, potensi risiko dapat ditekan sejak dini sehingga dampak bencana dapat diminimalkan.
Aksi sederhana seperti pemangkasan pohon berisiko menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan dimulai dari lingkungan terdekat. Langkah preventif yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana, sekaligus menumbuhkan budaya gotong royong dalam menjaga keselamatan bersama.(SBD)