Ziarah Wali Jadi Sarana Memperkuat Spiritualitas dan Kebersamaan Umat

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 28, 2026
Keagamaan

SLEMAN – Tradisi ziarah wali terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama penyebar Islam, kegiatan ini juga menjadi ruang memperkuat nilai spiritual, mempererat ukhuwah, sekaligus menjaga warisan budaya Islam Nusantara.

Semangat tersebut diwujudkan Pengurus Lapangan Zaroh Auliya' binaan almarhum KH. Ashari ZA Kerisan Banyurejo Tempel Sleman yang tergabung dalam Jamaah Pengajian "Ahad Pon" kembali menggelar perjalanan ziarah ke sejumlah makam tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa pada Sabtu–Ahad, 27-28 Juni 2026 atau bertepatan dengan 11-12 Muharram.

Rangkaian perjalanan diawali dari Kemusuh dengan titik kumpul pada Sabtu sore sebelum rombongan bergerak menuju sejumlah lokasi bersejarah, di antaranya makam Habib Ali Bafaqih di Kemusuh, KH. Chudlori Tegalrejo, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, KH. Muttamakin di Pati, hingga sowan ke kediaman KH. Mu'ad Thoiri (Gus Muad) di Pati yang merupakan keturunan KH Mutamakkin.

Muhammad Lutfi, pengasuh Pondok Pesantren Assalam Kerisan Banyurejo Tempel, yang sekaligus penanggungjawab kegiatan ini menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan religi, tetapi menjadi media pembinaan keagamaan yang mengajak masyarakat meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam dengan penuh kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan.

"Kami ingin mengajak peserta mengambil hikmah dari perjuangan para wali dan ulama. Ziarah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta mempererat persaudaraan antarsesama," ujar Gus Lutfi.

Ditambahkan oleh nya, tradisi ziarah memiliki nilai edukatif karena mengenalkan generasi muda pada jejak dakwah Islam di Nusantara yang berkembang melalui pendekatan budaya, akhlak, dan keteladanan. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan kehidupan masyarakat modern yang membutuhkan harmoni, toleransi, dan semangat gotong royong.

Selain aspek spiritual, perjalanan bersama juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi antaranggota jamaah dari berbagai latar belakang. Kebersamaan selama perjalanan diharapkan mampu menumbuhkan rasa saling peduli serta memperkokoh persatuan umat.

Salah seorang peserta, Nur Mufidz mengaku mengikuti kegiatan tersebut setiap kali diselenggarakan karena merasakan manfaat yang tidak hanya bersifat ibadah, tetapi juga menambah wawasan sejarah Islam di Indonesia.

"Setiap ziarah selalu memberikan pengalaman batin yang berbeda. Kami belajar tentang perjuangan para ulama sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama jamaah. Semoga nilai-nilai yang diwariskan para wali dapat terus menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kegiatan ziarah wali tetap menjadi salah satu bentuk pelestarian tradisi keagamaan yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah, nilai spiritual, dan keteladanan para pendahulu. 

Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan semangat meneladani para ulama terus hidup dan menjadi penguat karakter bangsa yang religius, berakhlak, serta menjunjung tinggi persatuan.(SBD)