Penguatan Manajemen Takmir Dinilai Menjadi Fondasi Masjid Ramah Anak dan Inklusif

  • Sih Budi Daryanto
  • Jul 14, 2026
Sosial Masyarakat , Keagamaan

SLEMAN – Upaya mewujudkan masjid yang ramah anak dan mampu menjadi pusat pembinaan masyarakat tidak hanya bergantung pada banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Tata kelola organisasi yang baik dan profesional dinilai menjadi fondasi penting agar fungsi masjid dapat berkembang secara berkelanjutan dan menjawab kebutuhan umat yang semakin beragam.

Hal tersebut mengemuka pada hari kedua kegiatan Peningkatan Kapasitas Tempat Ibadah Ramah Anak yang berlangsung di Aula Lantai Dua Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, Sleman, Selasa (14/7/2026), yang diikuti perwakilan takmir masjid dari Kalurahan Lumbungrejo dan Margorejo.

Penyuluh Agama Islam Ahli Madya sekaligus perwakilan Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Sri Hermayanti, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa kemampuan manajerial takmir menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan pengelolaan masjid.

Menurutnya, pengelolaan masjid yang baik harus didukung dengan sistem administrasi dan organisasi yang tertata, mulai dari penyusunan laporan keuangan yang transparan, pelaksanaan rapat secara rutin, hingga adanya hasil rapat atau notulen sebagai bentuk dokumentasi dan akuntabilitas kepada jamaah.

"Masjid yang dikelola secara terbuka dan profesional akan lebih mudah membangun kepercayaan jamaah sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan," ujar Sri Hermayanti.

Ia menambahkan, pengembangan manajemen masjid idealnya juga dilengkapi dengan berbagai unsur pendukung seperti majelis taklim, dewan masjid, perpustakaan masjid, organisasi remaja masjid, hingga program pemberdayaan ekonomi dan layanan kesehatan masyarakat.

Berbagai elemen tersebut dinilai dapat memperkuat fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan sosial bagi masyarakat sekitar.

Namun demikian, Sri Hermayanti menegaskan bahwa keberhasilan sebuah masjid tidak semata ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki, melainkan terutama oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

"Yang paling penting adalah mentalitas para pengelola atau takmirnya. Ketika takmir memiliki semangat melayani, terbuka terhadap perubahan, dan mau berinovasi, maka masjid akan berkembang dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat," katanya.

Menurutnya, apabila seluruh unsur tersebut dapat berjalan secara ideal, maka akan tercipta lingkungan masjid yang tidak hanya menguatkan nilai-nilai ilahiyah atau hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat dimensi insaniyah melalui pelayanan sosial dan pemberdayaan umat.

Untuk mendukung hal tersebut, Sri Hermayanti mendorong para takmir agar terus belajar dari praktik-praktik baik pengelolaan masjid di berbagai daerah melalui pendekatan ATM atau Amati, Tiru, dan Modifikasi.

"Setiap masjid memiliki tantangan dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, pengalaman baik dari tempat lain dapat menjadi inspirasi untuk dikembangkan sesuai kebutuhan dan kondisi masyarakat masing-masing," tuturnya. (SBD)