Sentra Jamu Gendong Gesikan: Menjaga Warisan Jamu di Era Modern

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 20, 2025
Features

Sentra Jamu Gendong Gesikan: Menjaga Warisan Jamu di Era Modern

Dusun Gesikan, Kalurahan Merdikorejo, sejak lama dikenal sebagai sentra jamu gendong, jamu tradisional yang dahulu dijajakan para ibu dengan cara digendong berkeliling kampung. Hingga kini, tradisi itu tetap hidup. Tidak kurang dari 30 warga masih menekuni profesi penjual jamu gendong, meskipun pola pemasaran telah berubah mengikuti zaman. Banyak penjual kini memanfaatkan sepeda motor, bahkan melayani pesanan daring melalui jasa kurir.

Salah satu tokoh penting di balik kelestarian tradisi ini adalah Sarjono, pendiri Organisasi Jamu Gendong Ngudi Makmur pada tahun 1997. Ditemui di rumahnya pada 19 November 2025, Sarjono menegaskan bahwa nama “jamu gendong” tetap dipertahankan meski cara penjualannya sudah modern.

“Kami tetap menamakannya jamu gendong, meskipun sekarang dikemas dalam botol kecil dan dikirim dengan kendaraan bermotor,” ujarnya. Sarjono menawarkan dua ukuran kemasan, yakni botol 360 cc dan botol 1 liter untuk stok penyimpanan.

Beragam jamu siap minum disiapkan dalam kondisi dingin agar segar diminum: Wedang Secang, Wedang Uwuh, Wedang Jahe Lanceng, dan Wedang Serai. Jamu-jamu ini disimpan dalam lemari pendingin sehingga siap dikirim kapan saja.

Dari sisi kualitas, Sarjono dan kelompoknya sangat menekankan standar higienis. “Kami menjaga kebersihan. Semua proses menggunakan alat, bukan tangan langsung,” jelasnya. Bahan jamu atau empon-empon juga selalu dijemur hingga benar-benar kering agar bakteri mati dan jamu tidak mudah basi.

Sarjono optimistis usaha jamu tetap memiliki masa depan cerah. Tren masyarakat kini semakin kuat menuju back to nature, mencari minuman herbal sebagai alternatif obat kimia. Sebagian besar bahan baku bisa diperoleh dari pasar lokal, sementara beberapa jenis empon-empon khusus dan beberapa jenis daun harus didatangkan dari Gunung Kidul, Kulon Progo, Bantul dan Magelang.

Dusun Gesikan pun terus mempertahankan identitasnya: kampung jamu yang merawat tradisi, sambil menyesuaikan diri dengan zaman. 

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)