SMA Ma’arif 1 Sleman: Menerima Pemulihan Korban Bullying dan Siswa Bermasalah

  • Sih Budi Daryanto
  • Nov 21, 2025
Features

SMA Ma’arif 1 Sleman: Menerima Pemulihan Korban Bullying dan Siswa Bermasalah

Di tepi Jalan Bibis, Kalurahan Merdikorejo, berdiri SMA Ma’arif 1 Sleman, sebuah sekolah kecil dengan 48 siswa dari tiga kelas—X, XI, dan XII. Sekitar 80 persen siswanya berasal dari pondok pesantren di wilayah Tempel.

Kepala Sekolah, Wahyu Herlambang, yang ditemui pada 20/11/2025 menjelaskan bahwa jumlah siswa di sekolah ini bersifat fluktuatif. “Setiap kelulusan jumlahnya berkurang, tetapi kemudian bertambah lagi dari siswa pindahan,” ujarnya.

Menurut Wahyu, sebagian besar siswa pindahan adalah anak-anak yang mengalami masalah di sekolah sebelumnya. “Orang tuanya sudah kuwalahan, kemudian menitipkannya ke sini,” ungkapnya. “Dalam kondisi apa pun, Insya Allah kami terima dan mencoba membimbingnya.”

Banyak dari siswa pindahan tersebut merupakan korban bullying. Di sekolah kecil ini mereka mendapatkan perlakuan penuh empati. “Kami anggap mereka keluarga,” kata Wahyu. Ukuran sekolah yang tidak terlalu besar membuat pengawasan lebih mudah dan interaksi lebih dekat.

Wahyu yang telah memimpin sekolah ini selama 20 tahun sejak tahun 2006 menjelaskan bahwa sejak awal ia membangun kultur sekolah yang ramah, suportif, dan inklusif. Para siswa lama diorientasi untuk menerima teman-teman baru mereka dengan hangat. “Kami ingin menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri mereka kembali,” tambahnya. Hasilnya terasa. “Alhamdulillah, anak-anak korban bullying yang pindah ke sini dapat pulih dan menyelesaikan studi dengan baik,” ujarnya.

Tidak hanya korban bullying, sekolah ini juga pernah menerima siswa yang terlibat tawuran dan geng pemuda. Wahyu mengenang satu kasus: “Pernah ada anak yang sampai tertangkap polisi karena membawa senjata clurit dan bom molotov.” Namun dengan pendekatan pembinaan yang intensif, anak itu akhirnya lulus dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Yang penting kami berikan kepedulian. Anak-anak ini hanya butuh perhatian, didengar dan diarahkan,” tutup Wahyu.

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)