Penantian anggota Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) “Tirta Mandiri” akhirnya terbayar. Pada Kamis malam, 18 Juni 2026, seusai shalat Isya, sebuah kendaraan pikap bak terbuka memasuki area kolam budidaya di Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Kendaraan tersebut membawa sekitar 8.000 ekor benih ikan lele yang akan dibesarkan di kolam-kolam milik kelompok.
Benih yang datang memiliki ukuran sekitar tiga jari dan segera menjadi pusat perhatian anggota kelompok yang telah menunggu kedatangannya. Kehadiran benih tersebut menandai dimulainya tahap penting dalam program budidaya lele yang dikelola secara bersama oleh warga RT 06 RW 26 Gundengan Kidul.
Ketua Kelompok Tirta Mandiri, Setyo, menjelaskan bahwa pengiriman benih dilakukan setelah tim pendamping menilai kondisi kolam sudah memenuhi syarat untuk pemeliharaan ikan. “Bibit ini dikirim setelah kolam dinyatakan layak menerima ikan. Sebelumnya kami bergotong royong memasang paranet untuk menaungi seluruh area kolam serta membuat pagar dari kain bekas spanduk agar lingkungan budidaya lebih aman,” ujarnya.
Saat ini kelompok memiliki tujuh kolam bundar berdiameter sekitar tiga meter yang telah dipersiapkan secara bertahap. Selain kolam, berbagai sarana produksi juga telah diterima oleh kelompok. “Sebelumnya sudah dikirim delapan kuintal pakan dan timbangan,” tambah Setyo.
Seluruh bantuan tersebut merupakan dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha perikanan air tawar berbasis kelompok. Selain benih dan pakan, kelompok juga menerima garam grosok, obat-obatan, tetes tebu (molase), serta mikroorganisme yang digunakan untuk membantu menjaga kualitas air dan kesuburan kolam. Warga sendiri berkontribusi dengan menyediakan lahan, menyiapkan kolam, serta menjamin ketersediaan pasokan air selama masa pemeliharaan.
Setibanya di lokasi, benih lele yang diangkut dalam kontainer plastik terlebih dahulu diperiksa. Sebagian air dalam wadah dikurangi dan beberapa ekor yang mati selama perjalanan dipisahkan. Proses transportasi benih memang selalu memiliki risiko kematian akibat perubahan suhu, guncangan, maupun kepadatan selama pengangkutan. Karena itu pengiriman umumnya dilakukan pada sore atau malam hari ketika suhu udara lebih rendah sehingga tingkat stres ikan dapat diminimalkan.
Sebelum dilepas ke kolam, benih diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi air setempat agar tidak mengalami kejutan lingkungan. Setelah proses tersebut selesai, ribuan benih tampak lincah berenang dan segera menyebar ke seluruh bagian kolam, seolah menikmati rumah baru mereka.
Budidaya lele dipilih karena memiliki masa pemeliharaan yang relatif singkat, sekitar 2,5 hingga 3 bulan, serta permintaan pasar yang stabil. Dengan pengelolaan yang baik, hasil panen diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Selain menjadi sumber pemasukan untuk kas lingkungan, usaha bersama ini juga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan, memperkuat semangat gotong royong, dan menambah kesejahteraan masyarakat Gundengan Kidul. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)