Bisnis Mobil Bekas di Sleman Tetap Stabil di Tengah Gejolak Ekonomi
“Gejolak harga bahan bakar dan serbuan mobil listrik tidak terlalu berpengaruh pada bisnis mobil bekas,” kata Faruk Usman, pemilik showroom Margorejo Mobil di Jalan Magelang Km 17, Tempel, Sleman, saat ditemui Kamis, 21 Mei 2026.
Rata-rata stok mobil yang dimilikinya mencapai 80 hingga 100 unit, dengan tingkat perputaran (turnover) sekitar 80–90 persen. Angka itu menunjukkan bahwa bisnis mobil bekas masih tetap bergerak stabil di tengah transformasi teknologi mobil listrik dan dinamika ekonomi global.
Kisaran harga mobil yang dijual cukup beragam, mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah, sehingga mampu menjangkau berbagai kalangan pelanggan. Faruk juga berupaya menjaga kepercayaan konsumen dengan memastikan kondisi kendaraan tetap baik. Jika ditemukan kerusakan dalam masa garansi, perbaikan akan menjadi tanggung jawab pihak showroom.
Ia menerapkan sistem uang muka dalam transaksi pembelian. Namun, bila pelanggan membatalkan transaksi, uang muka tersebut akan dikembalikan. Menurutnya, pemotongan uang muka sering menjadi hal yang tidak disukai pelanggan, sehingga ia memilih menjaga kenyamanan dan kepercayaan mereka.
Pria paruh baya ini telah menekuni bisnis mobil bekas selama sekitar seperempat abad. Sebelum itu, ia pernah menjalani beragam usaha, mulai dari penggilingan padi, peternakan sapi, pemborong bangunan, usaha truk, hingga mengelola armada bus lintas Sumatera. Selain bisnis mobil bekas, ia juga mengembangkan usaha kuliner dengan sistem waralaba.
Faruk pun pernah bekerja di Jakarta dan merasakan kerasnya kehidupan ibu kota. Berbagai pengalaman itulah yang menjadi modal penting baginya untuk bertahan dan terus berkembang dalam dunia usaha.
Di balik perjalanan panjang bisnisnya, Faruk ternyata menemukan kebahagiaan bukan semata-mata dari keuntungan usaha. “Saya merasa tenang ketika bersama anak-anak yatim,” katanya pelan. Setiap akhir pekan, ia dapat dijumpai melaksanakan shalat Subuh bersama anak-anak yatim di Masjid Baitu Salam yang tidak jauh dari tempat usahanya. Baginya, anak-anak yang kurang beruntung itu justru menjadi sumber semangat hidup. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)