Penguatan Pemanfaatan Aplikasi EHDW Jadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting di Tingkat Desa

  • Sih Budi Daryanto
  • Jun 25, 2026
Sosial Masyarakat

SLEMAN – Upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi kesehatan, tetapi juga pada kualitas data yang menjadi dasar pengambilan kebijakan. Karena itu, penguatan pemanfaatan aplikasi Elektronik Human Development Worker (EHDW) terus didorong sebagai instrumen penting dalam memastikan program penanganan stunting berjalan tepat sasaran hingga tingkat desa.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pembinaan dan peningkatan kapasitas pengelola data stunting yang diikuti perwakilan kalurahan se Kapanewon Tempel yakni Merdikorejo, Lumbungrejo, Margorejo, Mororejo, Sumberrejo, Banyurejo, Pondokrejo, dan Tambakrejo. Kegiatan menghadirkan narasumber Praptono, pendamping EHDW Kabupaten Sleman, yang memberikan penguatan terkait pemanfaatan aplikasi EHDW sebagai alat pemantauan kondisi keluarga berisiko stunting.

Dalam paparannya, Praptono menegaskan bahwa aplikasi EHDW memiliki peran strategis dalam mendukung pemerintah mewujudkan kebijakan berbasis data. Melalui aplikasi tersebut, berbagai informasi terkait sasaran keluarga berisiko stunting dapat dihimpun, diverifikasi, dan dimanfaatkan untuk merancang intervensi yang lebih efektif.

“Penurunan stunting tidak bisa dilakukan hanya dengan program yang bersifat umum. Dibutuhkan data yang akurat, mutakhir, dan terintegrasi agar setiap intervensi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan. Di sinilah peran EHDW menjadi sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, aplikasi EHDW tidak sekadar menjadi sarana pelaporan, tetapi juga alat koordinasi yang menghubungkan berbagai pihak mulai dari kader pembangunan manusia, pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi tumpang tindih program dapat diminimalkan dan kebutuhan masyarakat dapat dipetakan secara lebih tepat.

Praptono menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan stunting sangat dipengaruhi oleh kualitas pendataan di lapangan. Oleh sebab itu, kader dan operator desa perlu memahami tata cara pengisian data, validasi informasi, serta pemanfaatan hasil analisis yang tersedia dalam aplikasi.

“Data yang baik akan menghasilkan kebijakan yang baik. Sebaliknya, jika data tidak valid, maka program yang disusun berisiko tidak tepat sasaran. Karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya percepatan penurunan stunting,” katanya.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarwilayah dalam menghadapi berbagai tantangan pelaksanaan program konvergensi stunting. Para peserta berdiskusi mengenai strategi meningkatkan kualitas pendataan keluarga sasaran, memperkuat koordinasi lintas sektor, hingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pemenuhan gizi dan kesehatan ibu serta anak.

Sejalan dengan target nasional penurunan stunting, pemanfaatan teknologi informasi seperti aplikasi EHDW dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat tata kelola program pembangunan manusia.

Dengan dukungan data yang akurat dan kolaborasi berbagai pihak, upaya menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing diharapkan dapat terwujud secara lebih efektif dan berkelanjutan.(SBD)